Minggu, 02 Agustus 2009

Logam transisi

Logam transisi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Logam transisi didefinisikan secara tradisional sebagai semua unsur kimia pada blok-d pada tabel periodik, termasuk seng (Zn), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg). Ini berarti adalah golongan 3 sampai 12 di tabel periodik. IUPAC kemudian mendefinisikan logam transisi sebagai semua unsur yang memiliki orbit elektron d yang tidak lengkap atau yang hanya dapat membentuk ion stabil dengan orbit d yang tidak lengkap. Berdasarkan definisi ini ketiga unsur di atas (Zn, Cd, dan Hg) tidak termasuk ke dalam logam transisi.

Berdasarkan definisi tradisional, terdapat 40 unsur yang termasuk logam transisi dengan nomor atom 21 sampai 30, 39 sampai 48, 71 sampai 80, dan 103 sampai 112. Nama "transisi" diperoleh berdasarkan posisi unsur-unsur tersebut di tabel periodik.

Tabel periodik

Tabel standar | Tabel vertikal

Daftar unsur kimia

Berdasarkan nama | Berdasarkan lambang | Berdasarkan nomor atom
Golongan: 1 - 2 - 3 - 4 - 5 - 6 - 7 - 8 - 9 - 10 - 11 - 12 - 13 - 14 - 15 - 16 - 17 - 18
Periode: 1 - 2 - 3 - 4 - 5 - 6 - 7 - 8 - 9
Deret kimia: Alkali - Alkali tanah - Lantanida - Aktinida - Logam transisi - Logam - Metaloid - Nonlogam - Halogen - Gas mulia


Konfigurasi Elektron

Konfigurasi elektron

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Orbital-orbital molekul dan atom elektron

Dalam fisika atom dan kimia kuantum, konfigurasi elektron adalah susunan elektron-elektron pada sebuah atom, molekul, atau struktur fisik lainnya.[1] Sama seperti partikel elementer lainnya, elektron patuh pada hukum mekanika kuantum dan menampilkan sifat-sifat bak-partikel maupun bak-gelombang. Secara formal, keadaan kuantum elektron tertentu ditentukan oleh fungsi gelombangnya, yaitu sebuah fungsi ruang dan waktu yang bernilai kompleks. Menurut interpretasi mekanika kuantum Copenhagen, posisi sebuah elektron tidak bisa ditentukan kecuali setelah adanya aksi pengukuran yang menyebabkannya untuk bisa dideteksi. Probabilitas aksi pengukuran akan mendeteksi sebuah elektron pada titik tertentu pada ruang adalah proporsional terhadap kuadrat nilai absolut fungsi gelombang pada titik tersebut.

Elektron-elektron dapat berpindah dari satu aras energi ke aras energi yang lainnya dengan emisi atau absorpsi kuantum energi dalam bentuk foton. Oleh karena asas larangan Pauli, tidak boleh ada lebih dari dua elektron yang dapat menempati sebuah orbital atom, sehingga elektron hanya akan meloncat dari satu orbital ke orbital yang lainnya hanya jika terdapat kekosongan di dalamnya.

Pengetahuan atas konfigurasi elektron atom-atom sangat berguna dalam membantu pemahaman struktur tabel periodik unsur-unsur. Konsep ini juga berguna dalam menjelaskan ikatan kimia yang menjaga atom-atom tetap bersama.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Kelopak dan subkelopak

Konfigurasi elektron yang pertama kali dipikirkan adalah berdasarkan pada model atom model Bohr. Adalah umum membicarakan kelopak maupun subkelopak walaupun sudah terdapat kemajuan dalam pemahaman sifat-sifat mekania kuantum elektron. Berdasarkan asas larangan Pauli, sebuah orbital hanya dapat menampung maksimal dua elektron. Namun pada kasus-kasus tertentu, terdapat beberapa orbital yang memiliki aras energi yang sama (dikatakan berdegenerasi), dan orbital-orbital ini dihitung bersama dalam konfigurasi elektron.

Kelopak elektron merupakan sekumpulan orbital-orbital atom yang memiliki bilangan kuantum utama n yang sama, sehingga orbital 3s, orbital-orbital 3p, dan orbital-orbital 3d semuanya merupakan bagian dari kelopak ketiga. Sebuah kelopak elektron dapat menampung 2n2 elektron; kelopak pertama dapat menampung 2 elektron, kelopak kedua 8 elektron, dan kelopak ketiga 18 elektron, demikian seterusnya.

Subkelopak elektron merupakan sekelompok orbital-orbital yang mempunyai label orbital yang sama, yakni yang memiliki nilai n dan l yang sama. Sehingga tiga orbital 2p membentuk satu subkelopak, yang dapat menampung enam elektron. Jumlah elektron yang dapat ditampung pada sebuah subkelopak berjumlah 2(2l+1); sehingga subkelopak "s" dapat menampung 2 elektron, subkelopak "p" 6 elektron, subkelopak "d" 10 elektron, dan subkelopak "f" 14 elektron.

Jumlah elektron yang dapat menduduki setiap kelopak dan subkelopak berasal dari persamaan mekanika kuantum,[2] terutama asas larangan Pauli yang menyatakan bahwa tidak ada dua elektron dalam satu atom yang bisa mempunyai nilai yang sama pada keempat bilangan kuantumnya.[3]

[sunting] Notasi

Para fisikawan dan kimiawan menggunakan notasi standar untuk mendeskripsikan konfigurasi-konfigurasi elektron atom dan molekul. Untuk atom, notasinya terdiri dari untaian label orbital atom (misalnya 1s, 3d, 4f) dengan jumlah elektron dituliskan pada setiap orbital (atau sekelompok orbital yang mempunyai label yang sama). Sebagai contoh, hidrogen mempunyai satu elektron pada orbital s kelopak pertama, sehingga konfigurasinya ditulis sebagai 1s1. Litium mempunyai dua elektron pada subkelopak 1s dan satu elektron pada subkelopak 2s, sehingga konfigurasi elektronnya ditulis sebagai 1s2 2s1. Fosfor (bilangan atom 15) mempunyai konfigurasi elektron : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p3.

Untuk atom dengan banyak elektron, notasi ini akan menjadi sangat panjang, sehingga notasi yang disingkat sering digunakan. Konfigurasi elektron fosfor, misalnya, berbeda dari neon (1s2 2s2 2p6) hanya pada keberadaan kelopak ketiga. Sehingga konfigurasi elektron neon dapat digunakan untuk menyingkat konfigurasi elektron fosfor. Konfigurasi elektron fosfor kemudian dapat ditulis: [Ne] 3s2 3p3. Konvensi ini sangat berguna karena elektron-elektron pada kelopak terluar sajalah yang paling menentukan sifat-sifat kimiawi sebuah unsur.

Urutan penulisan orbital tidaklah tetap, beberapa sumber mengelompokkan semua orbital dengan nilai n yang sama bersama, sedangkan sumber lainnya mengikuti urutan berdasarkan asas Aufbau. Sehingga konfigurasi Besi dapat ditulis sebagai [Ar] 3d6 4s2 ataupun [Ar] 4s2 3d6 (mengikuti asas Aufbau).

Adalah umum untuk menemukan label-label orbital "s", "p", "d", "f" ditulis miring, walaupaun IUPAC merekomendasikan penulisan normal. Pemilihan huruf "s", "p", "d", "f" berasal dari sistem lama dalam mengkategorikan garis spektra, yakni "sharp", "principal", "diffuse", dan "fine". Setelah "f", label selanjutnya diikuti secara alfabetis, yakni "g", "h", "i", ...dst, walaupun orbital-orbital ini belum ditemukan.

Konfigurasi elektron molekul ditulis dengan cara yang sama, kecuali bahwa label orbital molekullah yang digunakan, dan bukannya label orbital atom.

[sunting] Sejarah

Niels Bohr adalah orang yang pertama kali (1923) mengajukan bahwa periodisitas pada sifat-sifat unsur kimia dapat dijelaskan oleh struktur elektronik atom tersebut.[4] Pengajuannya didasarkan pada model atom Bohr, yang mana kelopak-kelopak elektronnya merupakan orbit dengan jarak yang tetap dari inti atom. Konfigurasi awal Bohr berbeda dengan konfigurasi yang sekarang digunakan: sulfur berkonfigurasi 2.4.4.6 daripada 1s2 2s2 2p6 3s2 3p4.

Satu tahun kemudian, E. C. Stoner memasukkan bilangan kuantum ketiga Sommerfeld ke dalam deskripsi kelopak elektron, dan dengan benar memprediksi struktur kelopak sulfur sebagai 2.8.6.[5] Walaupun demikian, baik sistem Bohr maupun sistem Stoner tidak dapat menjelaskan dengan baik perubahan spektra atom dalam medan magnet (efek Zeeman).

Bohr sadar akan kekurangan ini (dan yang lainnya), dan menulis surat kepada temannya Wolfgang Pauli untuk meminta bantuannya menyelamatkan teori kuantum (sistem yang sekarang dikenal sebagai "teori kuantum lama"). Pauli menyadari bahwa efek Zeeman haruslah hanya diakibatkan oleh elektron-elektron terluar atom. Ia juga dapat menghasilkan kembali struktur kelopak Stoner, namun dengan struktur subkelopak yang benar dengan pemasukan sebuah bilangan kuantum keempat dan asas larangannya (1925):[6]

It should be forbidden for more than one electron with the same value of the main quantum number n to have the same value for the other three quantum numbers k [l], j [ml] and m [ms].

Adalah tidak diperbolehkan untuk lebih dari satu elektron dengan nilai bilangan kuantum utama n yang sama memiliki nilai tiga bilangan kuantum k [l], j [ml] dan m [ms] yang sama.

Persamaan Schrödinger yang dipublikasikan tahun 1926 menghasilkan tiga dari empat bilangan kuantum sebagai konsekuensi penyelesainnya untuk atom hidrogen:[2] penyelesaian ini menghasilkan orbital-orbital atom yang dapat kita temukan dalam buku-buku teks kimia. Kajian spektra atom mengijinkan konfigurasi elektron atom untuk dapat ditentukan secara eksperimen, yang pada akhirnya menghasilkan kaidah empiris (dikenal sebagai kaidah Madelung (1936)[7]) untuk urutan orbital atom mana yang terlebih dahulu diisi elektron.

[sunting] Asas Aufbau

Asas Aufbau (berasal dari Bahasa Jerman Aufbau yang berarti "membangun, konstruksi") adalah bagian penting dalam konsep konfigurasi elektron awal Bohr. Ia dapat dinyatakan sebagai:[8]

Terdapat maksimal dua elektron yang dapat diisi ke dalam orbital dengan urutan peningkatan energi orbital: orbital berenergi terendah diisi terlebih dahulu sebelum elektron diletakkan ke orbital berenergi lebih tinggi.
Urutan pengisian orbital-orbital atom mengikuti arah panah.

Asas ini bekerja dengan baik (untuk keadaan dasar atom-atom) untuk 18 unsur pertama; ia akan menjadi semakin kurang tepat untuk 100 unsur sisanya. Bentuk modern asas Aufbau menjelaskan urutan energi orbital berdasarkan kaidah Madelung, pertama kali dinyatakan oleh Erwin Madelung pada tahun 1936.[7][9]

  1. Orbital diisi dengan urutan peningkatan n+l;
  2. Apabila terdapat dua orbital dengan nilai n+l yang sama, maka orbital yang pertama diisi adalah orbital dengan nilai n yang paling rendah.

Sehingga, menurut kaidah ini, urutan pengisian orbital adalah sebagai berikut:

1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d 4p 5s 4d 5p 6s 4f 5d 6p 7s 5f 6d 7p

Asas Aufbau dapat diterapkan, dalam bentuk yang dimodifikasi, ke proton dan neutron dalam inti atom.

[sunting] Tabel periodik

Bentuk tabel periodik berhubungan dekat dengan konfigurasi elektron atom unsur-unsur. Sebagai contoh, semua unsur golongan 2 memiliki konfigurasi elektron [E] ns2 (dengan [E] adalah konfigurasi gas inert), dan memiliki kemiripan dalam sifat-sifat kimia. Kelopak elektron terluar atom sering dirujuk sebagai "kelopak valensi" dan menentukan sifat-sifat kimia suatu unsur. Perlu diingat bahwa kemiripan dalam sifat-sifat kimia telah diketahui satu abad sebelumnya, sebelum pemikiran konfigurasi elektron ada.[10]

[sunting] Kelemahan asas Aufbau

Asas Aufbau begantung pada postulat dasar bahwa urutan energi orbital adalah tetap, baik untuk suatu unsur atau di antara unsur-unsur yang berbeda. Ia menganggap orbital-orbital atom sebagai "kotak-kotak" energi tetap yang mana dapat diletakkan dua elektron. Namun, energi elektron dalam orbital atom bergantung pada energi keseluruhan elektron dalam atom (atau ion, molekul, dsb). Tidak ada "penyelesaian satu elektron" untuk sebuah sistem dengan elektron lebih dari satu, sebaliknya yang ada hanya sekelompok penyelesaian banyak elektron, yang tidak dapat dihitung secara eksak[11] (walaupun terdapat pendekatan matematika yang dapat dilakukan, seperti metode Hartree-Fock).

[sunting] Ionisasi logam transisi

Aplikasi asas Aufbau yang terlalu dipaksakan kemudan menghasilkan paradoks dalam kimia logam transisi. Kalium dan kalsium muncul dalam tabel periodik sebelum logam transisi, dan memiliki konfigurasi elektron [Ar] 4s1 dan [Ar] 4s2 (orbital 4s diisi terlebih dahulu sebelum orbital 3d). Hal ini sesuai dengan kaidah Madelung, karena orbital 4s memiliki nilai n+l = 4 (n = 4, l = 0), sedangkan orbital 3d n+l = 5 (n = 3, l = 2). Namun kromium dan tembaga memiliki konfigurasi elektron [Ar] 3d5 4s1 dan [Ar] 3d10 4s1 (satu elektron melewati pengisian orbital 4s ke orbital 3d untuk menghasilkan subkelopak yang terisi setengah). Dalam kasus ini, penjelasan yang diberikan adalah "subkelopak yang terisi setengah ataupun terisi penuh adalah susunan elektron yang stabil".

Paradoks akan muncul ketika elektron dilepaskan dari atom logam transisi, membentuk ion. Elektron yang pertama kali diionisasikan bukan berasal dari orbital 3d, melainkan dari 4s. Hal yang sama juga terjadi ketika senyawa kimia terbentuk. Kromium heksakarbonil dapat dijelaskan sebagai atom kromium (bukan ion karena keadaan oksidasinya 0) yang dikelilingi enam ligan karbon monoksida; ia bersifat diamagnetik dan konfigurasi atom pusat kromium adalah 3d6, yang berarti bahwa orbital 4s pada atom bebas telah bepindah ke orbital 3d ketika bersenyawa. Pergantian elektron antara 4s dan 3d ini dapat ditemukan secara universal pada deret pertama logam-logam transisi.[12]

Fenomena ini akan menjadi paradoks hanya ketika diasumsikan bahwa energi orbital atom adalah tetap dan tidak dipengaruhi oleh keberadaan elektron pada orbital-orbital lainnya. Jika begitu, maka orbital 3d akan memiliki energi yang sama dengan orbital 3p, seperti pada hidrogen. Namun hal ini jelas-jelas tidak demikian.

[sunting] Pengecualian kaidah Madelung lainnya

Terdapat beberapa pengecualian kaidah Madelung lainnya untuk unsur-unsur yang lebih berat, dan akan semakin sulit untuk menggunakan penjelasan yang sederhana mengenai pengecualian ini. Adalah mungkin untuk memprediksikan kebanyakan pengecualian ini menggunakan perhitungan Hartree-Fock,[13] yang merupakan metode pendekatan dengan melibatkan efek elektron lainnya pada energi orbital. Untuk unsur-unsur yang lebih berat, diperlukan juga keterlibatan efek relativitas khusus terhadap energi orbital atom, karena elektron-elektron pada kelopak dalam bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Secara umun, efek-efek relativistik ini[14] cenderung menurunkan energi orbital s terhadap orbital atom lainnya.[15]

Periode 5 Periode 6 Periode 7
Unsur Z Konfigurasi elektron Unsur Z Konfigurasi elektron Unsur Z Konfigurasi elektron
Itrium 39 [Kr] 5s2 4d1 Lantanum 57 [Xe] 6s2 5d1 Aktinium 89 [Rn] 7s2 6d1
Serium 58 [Xe] 6s2 4f1 5d1 Torium 90 [Rn] 7s2 6d2
Praseodimium 59 [Xe] 6s2 4f3 Protaktinium 91 [Rn] 7s2 5f2 6d1
Neodimium 60 [Xe] 6s2 4f4 Uranium 92 [Rn] 7s2 5f3 6d1
Prometium 61 [Xe] 6s2 4f5 Neptunium 93 [Rn] 7s2 5f4 6d1
Samarium 62 [Xe] 6s2 4f6 Plutonium 94 [Rn] 7s2 5f6
Europium 63 [Xe] 6s2 4f7 Amerisium 95 [Rn] 7s2 5f7
Gadolinium 64 [Xe] 6s2 4f7 5d1 Kurium 96 [Rn] 7s2 5f7 6d1
Terbium 65 [Xe] 6s2 4f9 Berkelium 97 [Rn] 7s2 5f9
Zirkonium 40 [Kr] 5s2 4d2 Hafnium 72 [Xe] 6s2 4f14 5d2
Niobium 41 [Kr] 5s1 4d4 Tantalum 73 [Xe] 6s2 4f14 5d3
Molibdenum 42 [Kr] 5s1 4d5 Tungsten 74 [Xe] 6s2 4f14 5d4
Teknesium 43 [Kr] 5s2 4d5 Renium 75 [Xe] 6s2 4f14 5d5
Rutenium 44 [Kr] 5s1 4d7 Osmium 76 [Xe] 6s2 4f14 5d6
Rodium 45 [Kr] 5s1 4d8 Iridium 77 [Xe] 6s2 4f14 5d7
Paladium 46 [Kr] 4d10 Platinum 78 [Xe] 6s1 4f14 5d9
Perak 47 [Kr] 5s1 4d10 Emas 79 [Xe] 6s1 4f14 5d10
Kadmium 48 [Kr] 5s2 4d10 Raksa 80 [Xe] 6s2 4f14 5d10
Indium 49 [Kr] 5s2 4d10 5p1 Talium 81 [Xe] 6s2 4f14 5d10 6p1

[sunting] Lihat pula

Sabtu, 25 Juli 2009

Teori brewster(warna)

Teori brewster

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Lingkaran warna

Teori Brewster pertama kali dikemukakan pada tahun 1831. Teori ini menyederhanakan warna-warna yang ada di alam menjadi 4 kelompok warna, yaitu warna primer, sekunder, tersier, dan warna netral.

Kelompok warna ini sering disusun dalam lingkaran warna brewster. Lingkaran warna brewster mampu menjelaskan teori kontras warna (komplementer), split komplementer, triad, dan tetrad.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Pembagian warna

[sunting] Warna primer

Merupakan warna dasar yang tidak merupakan campuran dari warna-warna lain. Warna yang termasuk dalam golongan warna primer adalah merah, biru, dan kuning.

[sunting] Warna sekunder

Merupakan hasil pencampuran warna-warna primer dengan proporsi 1:1. Misalnya warna jingga merupakan hasil campuran warna merah dengan kuning, hijau adalah campuran biru dan kuning, dan ungu adalah campuran merah dan biru.

[sunting] Warna tersier

Merupakan campuran salah satu warna primer dengan salah satu warna sekunder. Misalnya warna jingga kekuningan didapat dari pencampuran warna kuning dan jingga.

[sunting] Warna netral

Warna netral merupakan hasil campuran ketiga warna dasar dalam proporsi 1:1:1. Warna ini sering muncul sebagai penyeimbang warna-warna kontras di alam. Biasanya hasil campuran yang tepat akan menuju hitam.

[sunting] Warna panas dan dingin

Lingkaran warna primer hingga tersier bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok warna panas dan warna dingin. Warna panas dimulai dari kuning kehijauan hingga merah. Sementara warna dingin dimulai dari ungu kemerahan hingga hijau.

Warna panas akan menghasilkan sensasi panas dan dekat. Sementara warna dingin sebaliknya. Suatu karya seni disebut memiliki komposisi warna harmonis jika warna-warna yang terdapat di dalamnya menghasilkan efek hangat-sedang.

[sunting] Hubungan antar warna

[sunting] Kontras komplementer

Adalah dua warna yang saling berseberangan (memiliki sudut 180°) di lingkaran warna. Dua warna dengan posisi kontras komplementer menghasilkan hubungan kontras paling kuat. Misalnya jingga dengan biru.

[sunting] Kontras split komplemen

Adalah dua warna yang saling agak berseberangan (memiliki sudut mendekati 180°). Misalnya Jingga memiliki hubungan split komplemen dengan hijau kebiruan.

[sunting] Kontras triad komplementer

Adalah tiga warna di lingkaran warna yang membentuk segitiga sama kaki dengan sudut 60°.

[sunting] Kontras tetrad komplementer

Disebut juga dengan double komplementer. Adalah empat warna yang membentuk bangun segi empat (dengan sudut 90°).

[sunting] Lihat pula

Warna Pigmen

Daftar warna

Daftar warna

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Berikut adalah daftar warna yang mempunyai artikel di Wikipedia.

Nama Contoh Hex triplet RGB CMYK HSV
Abu-abu
#808080 128 128 128 0, 0, 0, 128 0, 0, 50
Biru
#0000FF 0 0 255 255, 255, 0, 0 240, 100, 100
Biru laut
#000080 0 0 128 255, 255, 0, 127 240, 100, 50
Coklat
#964B00 150 75 0 0, 74, 150, 105 30, 100, 59
Emas
#FFD700 255 215 0 0, 40, 255, 0 51, 100, 100
Hijau
#00FF00 0 255 0 255, 0, 255, 0 120, 100, 100
Hitam
#000000 0 0 0 0, 0, 0, 255 0, 0, 0
Kuning
#FFFF00 255 255 0 0, 0, 255, 0 60, 100, 100
Merah
#FF0000 255 0 0 0, 255, 255, 0 0, 100, 100
Merah marun
#800000 128 0 0 0, 255, 255, 127 0, 100, 50
Merah jambu
#FFC0CB 255 192 203 0, 63, 52, 0 350, 25, 100
Oranye
#FF7F00 255 165 0 0, 89, 255, 0 38, 100, 100
Perak
#C0C0C0 192 192 192 0, 0, 0, 63 0, 0, 75
Putih
#FFFFFF 255 255 255 0, 0, 0, 0 0, 0, 100
Ungu
#660099 102 0 153 50, 153, 0, 102 280, 100, 60
Violet
#BF00BF 139 0 255 116, 255, 0, 0 273, 100, 100
Zaitun
#808000 128 128 0 0, 0, 100, 50 60, 100, 50

Berikut ini adalah daftar warna untuk kode HTML:

HTML name Hex code
R G B
Decimal code
R G B
Red colors
IndianRed CD 5C 5C 205 92 92
LightCoral F0 80 80 240 128 128
Salmon FA 80 72 250 128 114
DarkSalmon E9 96 7A 233 150 122
LightSalmon FF A0 7A 255 160 122
Crimson DC 14 3C 220 20 60
Red FF 00 00 255 0 0
FireBrick B2 22 22 178 34 34
DarkRed 8B 00 00 139 0 0
Pink colors
Pink FF C0 CB 255 192 203
LightPink FF B6 C1 255 182 193
HotPink FF 69 B4 255 105 180
DeepPink FF 14 93 255 20 147
MediumVioletRed C7 15 85 199 21 133
PaleVioletRed DB 70 93 219 112 147
Orange colors
LightSalmon FF A0 7A 255 160 122
Coral FF 7F 50 255 127 80
Tomato FF 63 47 255 99 71
OrangeRed FF 45 00 255 69 0
DarkOrange FF 8C 00 255 140 0
Orange FF A5 00 255 165 0
Yellow colors
Gold FF D7 00 255 215 0
Yellow FF FF 00 255 255 0
LightYellow FF FF E0 255 255 224
LemonChiffon FF FA CD 255 250 205
LightGoldenrodYellow FA FA D2 250 250 210
PapayaWhip FF EF D5 255 239 213
Moccasin FF E4 B5 255 228 181
PeachPuff FF DA B9 255 218 185
PaleGoldenrod EE E8 AA 238 232 170
Khaki F0 E6 8C 240 230 140
DarkKhaki BD B7 6B 189 183 107
Purple colors
Lavender E6 E6 FA 230 230 250
Thistle D8 BF D8 216 191 216
Plum DD A0 DD 221 160 221
Violet EE 82 EE 238 130 238
Orchid DA 70 D6 218 112 214
Fuchsia FF 00 FF 255 0 255
Magenta FF 00 FF 255 0 255
MediumOrchid BA 55 D3 186 85 211
MediumPurple 93 70 DB 147 112 219
Amethyst 99 66 CC 153 102 204
BlueViolet 8A 2B E2 138 43 226
DarkViolet 94 00 D3 148 0 211
DarkOrchid 99 32 CC 153 50 204
DarkMagenta 8B 00 8B 139 0 139
Purple 80 00 80 128 0 128
Indigo 4B 00 82 75 0 130
SlateBlue 6A 5A CD 106 90 205
DarkSlateBlue 48 3D 8B 72 61 139
MediumSlateBlue 7B 68 EE 123 104 238
HTML name Hex code
R G B
Decimal code
R G B
Green colors
GreenYellow AD FF 2F 173 255 47
Chartreuse 7F FF 00 127 255 0
LawnGreen 7C FC 00 124 252 0
Lime 00 FF 00 0 255 0
LimeGreen 32 CD 32 50 205 50
PaleGreen 98 FB 98 152 251 152
LightGreen 90 EE 90 144 238 144
MediumSpringGreen 00 FA 9A 0 250 154
SpringGreen 00 FF 7F 0 255 127
MediumSeaGreen 3C B3 71 60 179 113
SeaGreen 2E 8B 57 46 139 87
ForestGreen 22 8B 22 34 139 34
Green 00 80 00 0 128 0
DarkGreen 00 64 00 0 100 0
YellowGreen 9A CD 32 154 205 50
OliveDrab 6B 8E 23 107 142 35
Olive 80 80 00 128 128 0
DarkOliveGreen 55 6B 2F 85 107 47
MediumAquamarine 66 CD AA 102 205 170
DarkSeaGreen 8F BC 8F 143 188 143
LightSeaGreen 20 B2 AA 32 178 170
DarkCyan 00 8B 8B 0 139 139
Teal 00 80 80 0 128 128
Blue colors
Aqua 00 FF FF 0 255 255
Cyan 00 FF FF 0 255 255
LightCyan E0 FF FF 224 255 255
PaleTurquoise AF EE EE 175 238 238
Aquamarine 7F FF D4 127 255 212
Turquoise 40 E0 D0 64 224 208
MediumTurquoise 48 D1 CC 72 209 204
DarkTurquoise 00 CE D1 0 206 209
CadetBlue 5F 9E A0 95 158 160
SteelBlue 46 82 B4 70 130 180
LightSteelBlue B0 C4 DE 176 196 222
PowderBlue B0 E0 E6 176 224 230
LightBlue AD D8 E6 173 216 230
SkyBlue 87 CE EB 135 206 235
LightSkyBlue 87 CE FA 135 206 250
DeepSkyBlue 00 BF FF 0 191 255
DodgerBlue 1E 90 FF 30 144 255
CornflowerBlue 64 95 ED 100 149 237
MediumSlateBlue 7B 68 EE 123 104 238
RoyalBlue 41 69 E1 65 105 225
Blue 00 00 FF 0 0 255
MediumBlue 00 00 CD 0 0 205
DarkBlue 00 00 8B 0 0 139
Navy 00 00 80 0 0 128
MidnightBlue 19 19 70 25 25 112
HTML name Hex code
R G B
Decimal code
R G B
Brown colors
Cornsilk FF F8 DC 255 248 220
BlanchedAlmond FF EB CD 255 235 205
Bisque FF E4 C4 255 228 196
NavajoWhite FF DE AD 255 222 173
Wheat F5 DE B3 245 222 179
BurlyWood DE B8 87 222 184 135
Tan D2 B4 8C 210 180 140
RosyBrown BC 8F 8F 188 143 143
SandyBrown F4 A4 60 244 164 96
Goldenrod DA A5 20 218 165 32
DarkGoldenrod B8 86 0B 184 134 11
Peru CD 85 3F 205 133 63
Chocolate D2 69 1E 210 105 30
SaddleBrown 8B 45 13 139 69 19
Sienna A0 52 2D 160 82 45
Brown A5 2A 2A 165 42 42
Maroon 80 00 00 128 0 0
White colors
White FF FF FF 255 255 255
Snow FF FA FA 255 250 250
Honeydew F0 FF F0 240 255 240
MintCream F5 FF FA 245 255 250
Azure F0 FF FF 240 255 255
AliceBlue F0 F8 FF 240 248 255
GhostWhite F8 F8 FF 248 248 255
WhiteSmoke F5 F5 F5 245 245 245
Seashell FF F5 EE 255 245 238
Beige F5 F5 DC 245 245 220
OldLace FD F5 E6 253 245 230
FloralWhite FF FA F0 255 250 240
Ivory FF FF F0 255 255 240
AntiqueWhite FA EB D7 250 235 215
Linen FA F0 E6 250 240 230
LavenderBlush FF F0 F5 255 240 245
MistyRose FF E4 E1 255 228 225
Grey colors
Gainsboro DC DC DC 220 220 220
LightGrey D3 D3 D3 211 211 211
Silver C0 C0 C0 192 192 192
DarkGray A9 A9 A9 169 169 169
Gray 80 80 80 128 128 128
DimGray 69 69 69 105 105 105
LightSlateGray 77 88 99 119 136 153
SlateGray 70 80 90 112 128 144
DarkSlateGray 2F 4F 4F 47 79 79
Black 00 00 00 0 0 0

[sunting] Lihat pula